-->

Mengatasi Balita Nakal Dan Suka Membantah

mengatasi balita nakal

Kadangkala orangtua sering frustasi jika memiliki balita yang nakal, susah diatur dan sering membantah.  Jika keinginannya tidak dituruti, balita berteriak, memukul, menendang bahkan memaki ibu atau ayahnya dengan kata-kata seperti "Aku tidak sayang Mama" atau "Aku benci Mama" dan tantrum. Lalu, apa yang harus dilakukan jika anak nakal dan suka membantah?

Cara Mengatasi Anak Nakal 

Biasanya, Balita mulai nakal ketika sudah bisa berjalan dan berbicara. Sejak saat itu, mulailah anak suka membantah dan kepribadiannya mulai terlihat. Biasanya, puncak kenakalan balita hingga umur 3 tahun. Setelah waktu tersebut, perlahan karakternya mulai terbentuk. Nah, inilah masa penting dimana peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian anak.

Lalu pedoman apakah yang harus diingat orangtua agar Balita tidak terlanjur nakal hingga dewasa?
  • Tidak memanjakan. Semua orang tahu, sifat manja adalah sangat menyebalkan. Anak cenderung kasar, tidak menghormati orang lain, dan cenderung bossy. Sesayang-sayangnya orangtua pada anaknya, usahakan jangan memanjakan terlalu berlebihan. Karena setelah anak dewasa, sikap buruknya bisa menjadi boomerang bagi orangtuanya.
  • Perlakukan seperti orang dewasa. Ketika anak mulai mengerti percakapan, biasakan untuk berbicara dengan cara dewasa dan bijaksana. Sebisa mungkin memberi pengertian dan alasan jika ada hal yang boleh dan tidak boleh. Jangan hanya berkata "tidak", namun harus ada alasan yang jelas.
  • Tetapkan peraturan. Orangtua harus menjaga wibawa dan menetapkan peraturan sendiri di rumah. Sehingga keluarga memiliki aturan dan anak dibiasakan tidak bertindak seenaknya. Misalnya, mainan yang selesai dipakai harus dibereskan kembali pada tempatnya. Biasakan untuk memberikan perintah pada Balita (walaupun dalam kapasitasnya sebagai anak Balita) untuk membantu membereskan mainan. Karena dengan demikian, balita mulai belajar memiliki tanggung jawab.
  • Memberi contoh yang baik. Jika orangtua sering berkata kasar, maka anak akan meniru. Oleh karenanya, jangan mengharapkan anak untuk menjadi anak yang manis dan sopan jika orangtuanya sendiri tidak berlaku demikian. Orangtua adalah guru pertama anak sebelum mereka bersekolah.
  • Memanjakan ada batasnya. Kakek atau nenek biasanya memanjakan cucunya. Berilah pengertian kepada kakek dan neneknya untuk tidak selalu memanjakan cucunya. Juga tidak menolong atau membela cucu ketika dimarahi oleh orangtuanya. Sehingga balita merasa nenek dan kakeknya adalah benteng pengaman mereka. 
  • Memberi hukuman jika salah. Jika salah, anak sekali-sekali boleh diberikan sanksi dalam batas kewajaran dan tentu saja tidak dengan kekerasan. Sehingga anak belajar mematuhi peraturan.
  • Tidak bertindak kasar apalagi memukul. Percayalah, anak yang sering dikasari apalagi dipukul, maka anak akan mencontoh dan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Minimal kepada adik atau kakaknya ketika sedang berkelahi.
  • Tau batasan toleransi. Orangtua harus menyadari sampai dimana toleransi harus diberikan. Misalnya, adik memukul kakaknya, maka diberi toleransi "karena adik lebih kecil ya tidak apa-apa memukul kakaknya. Sedangkan kakak tidak boleh memukul adik". Hal ini adalah salah. Adik atau kakak, lebih kecil atau lebih besar, jika dia melakukan kesalahan, tetaplah harus dihukum.

Cara Mendidik Anak 

Bunda, ternyata mendidik anak tidak mudah. Namun tetaplah berpedoman pada hal yang benar dan tidak melanggar norma dan aturan. Yang terutama, tidak memanjakan anak secara berlebihan. Karena anak yang terlalu dimanja, ketika dewasa akan lebih sulit untuk mandiri. Dan ketika dalam kondisi terpaksa anak harus mandiri, maka mereka cenderung depresi, cemas, dan tidak siap karena terbiasa dimanjakan.

Posted By Tentangkeluarga101
Photo Credit : Pixabay

No comments:

Post a Comment