Faktor Pemicu Pertengkaran Suami Istri Dan Cara Mengatasinya

"penyebab pertengkaran suami istri"
Penyebab Pertengkaran Suami Istri

Belakangan ini perceraian sudah seperti hal yang biasa. Semakin banyak dan semakin mudah pasangan jaman sekarang memutuskan untuk berpisah atau bercerai. Banyak faktor menjadi penyebab pertengkaran rumah tangga. Berikut kita ulas satu persatu.

Penyebab Pertengkaran Suami Istri

Biasanya ketika pasangan bercerai mereka akan mengemukakan alasan "sudah tidak ada ketidakcocokan", atau "banyak terjadi pertengkaran" hingga "banyak beda pendapat". Nah apa saja penyebab pertengkaran rumah tangga tersebut? Berikut diantaranya:

  • Perbedaan mengurus anak. Kedengarannya hal sepele. Tapi kenyataannya, banyak lho pasangan yang sebelum memili anak mereka terlihat damai adem ayem, namun ketika sudah memiliki anak malah sering bertengkar. Masalahnya yaitu perbedaan cara mengasuh anak. Contohnya, istri terlihat lebih bawel dan disiplin sementara ayah lebih santai, memberi kebebasan bahkan memanjakan anak (atau sebaliknya). Hal sepele seperti ini tidak jarang memicu pertengkaran.
  • Berbeda hobby dan kesenangan. Kesenangan disini maksudnya "me time" yaitu cara masing-masing orang untuk memanjakan dirinya sendiri. Suami hobby panjat gunung sementara istri tidak suka outdoor apalagi olah raga ekstrem. Awalnya suami pergi sendiri. Lama-lama kebiasaan ini mengakibatkan hubungan menjadi jauh. Apalagi jika diantara hobby tersebut kemudian memicu kemungkinan menemukan teman dekat lawan jenis dengan hobby yang sama. Besar kemungkinan hal ini memicu perselingkuhan.
  • Berbeda gaya hidup. Manusia terlahir dengan sifat dan watak yang berbeda-beda. Misalnya suami adalah tipe yang sederhana dan tidak ribet. Sementara istri adalah tipe manusia perfeksionis yang menghabiskan waktu berjam-jam sebelum ke pesta undangan. Hal ini sangat bisa memicu pertengkaran. Apalagi jika pasangan tidak cukup sabar mengerti watak dan sifat pasangannya. Contoh di atas bisa saja terjadi sebaliknya. Artinya, istri yang sederhana dan simple sementara suami yang perfeksionis.
  • Beda budaya dan latar belakang. Nah, untuk hal ini lebih sensitif. Setiap budaya dan adat istiadat tentu berbeda. Seseorang yang dibesarkan di budaya A tentunya berbeda dengan seseorang dengan latar belakang budaya B. Dari makanan hingga hubungan keluarga. Hal seperti ini memerlukan toleransi dan pengertian yang mendalam. Ketika masa pacaran mungkin hal ini tidak terlalu terlihat. Namun ketika berumah tangga, hal semacam ini sangat terasa. Contoh kecil saja, selera berbusana hingga masakan, sangat kental dipengaruhi dengan budaya dimana seseorang dibesarkan.
  • Beda mengatur keuangan. Yang satu boros yang satu pelit. Hal ini tentu saja sangat bisa memicu pertengkaran suami istri. Termasuk perbedaan penghasilan yang mencolok. Sebenarnya, beda penghasilan tidak menjadi masalah. Entah istri atau suami dengan penghasilan yang lebih besar, selama suami istri bisa kompak dan sejalan satu dengan yang lainnya termasuk menghargai kekurangan pasangan. Kenyataannya, banyak juga loh pasangan suami istri dimana istri berpenghasilan lebih tinggi namun pernikahan mereka damai dan langgeng karena mereka sangat menghargai dan bisa bekerja sama satu dengan lainnya.

Faktor Pemicu Dari Luar


Selain perbedaan di atas, ada beberapa hal lain yang bisa memicu pertengkaran suami istri, terutama faktor luar atau kita sebut dengan orang ketiga seperti:
  • Mertua dan Ipar. Pernikahan adalah tidak hanya menyatukan individu melainkan juga menyatukan dua keluarga. Nah, disini ada peranan orang ketiga seperti mertua dan ipar. Banyak sekali kejadian dimana mertua tidak akur dengan menantu atau perkelahian sesama ipar yang sangat mungkin memicu perceraian atau setidaknya menjadi duri dalam daging dalam suatu pernikahan.
  • Selingkuhan. Nah, kalau yang ini sudah tidak heran lagi, tentu saja menjadi sumber utama percekcokan dan perceraian suami istri.
  • Teman yang toxic. Salah bergaul atau pengaruh teman yang tidak baik juga dapat menjadi sumber perceraian suami istri. Misalnya teman yang memberikan nasihat buruk yang menyesatkan hingga mengajak ke dalam pergaulan yang salah.

Cara Mengatasi Perbedaan

Setelah kita melihat faktor-faktor diatas, ternyata memang tidak mudah menjalankan suatu pernikahan. Tidak saja masalah internal suami istri yang memicu pertengkaran, namun masih bisa dihiasi dengan bumbu-bumbu dari pihak ketiga seperti mertua, ipar bahkan selingkuhan. Ribet bukan? Nah bagaimana cara mengatasi pertengkaran suami istri tersebut? Oleh karenanya, sebelum menikah kita wajib mempertimbangkan hal berikut untuk menghindari masalah rumah tangga yang sering terjadi:
  • Bicara soal keuangan. Sebelum menikah, jangan sungkan untuk membahas masalah keuangan. Dari mulai pembagian biaya sehari-hari hingga harta. Lebih baik dibicarakan di awal agar tidak terjadi salah paham dikemudian hari.
  • Mandiri dan tidak serumah dengan orangtua. Jika kamu sudah memutuskan untuk menikah, artinya kamu sudah harus hidup mandiri dan membangun keluarga sendiri. Apapun yang terjadi, sebisa mungkin batasi campur tangan orangtua. Jika kamu tidak mampu berjauhan dengan orangtua, jangan heran jika orangtua selalu ikut campur dalam pernikahanmu. Dan jangan salahkan mereka karena kamu sendirilah yang tidak mampu untuk berdiri di atas kakimu sendiri.
  • Jangan curhat dengan ipar. Jaga hubungan baik namun tidak terlalu dekat. Dan jangan pernah curhat masalah rumah tanggamu dengan iparmu sendiri. Karena akan percuma. Ingatlah, darah lebih kental daripada air.
  • Carilah pasangan dengan sedikit perbedaan. Kita tidak bisa menentukan siapa jodoh kita, latar belakangnya, hobbynya hingga darimana dia berasal. Namun, setidaknya carilah orang dengan sedikit perbedaan dengan kita. Misalnya, kita berbeda hobby dan kesenangan dengannya, namun masih sama dengan tradisi, agama maupun budaya. Masih bisa dimaklumi perbedaan tersebut. Karena semakin banyak perbedaan, percayalah, akan semakin banyak tantangannya.
Jika dahulu orang sering berkata "pasangan berbeda tidak mengapa, karena justru pasangan saling melengkapi". Percayalah, di jaman sekarang ini, individu sudah tidak memiliki toleransi seperti orang jaman dulu. Di jaman sekarang ini, manusia menjadi lebih kurang memiliki empati karena lebih berpikir secara logis. Sehingga perbedaan sedikit saja, terkadang bisa memicu keputusan yang besar.

Oleh karenanya, pikirkan baik-baik sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh karena hambatan dan tantangan akan lebih besar ke depannya.

Artikel Terkait :

Picture Credit: Pixabay, Mohamed Hassan

No comments:

Post a Comment