Hidup sendiri tanpa pasangan sering menimbulkan kecemasan pada mereka yang mengalaminya. Tidak berjodoh, tetap melajang dan sulit menemukan pasangan hidup hingga melewati usia produktif adalah sesuatu yang dapat terjadi pada hidup seseorang.
Namun jangan berkecil hati. Karena kehidupan, maut dan jodoh adalah sesuatu di luar kemampuan kita sebagai manusia. Yang Kuasa sudah mengaturnya. Tinggal kita menjalaninya. Lalu, bagaimana jika hal tersebut terjadi pada kita?
Hidup Sendiri Tanpa Pasangan
Jika kita pada akhirnya harus hidup sendiri tanpa pasangan, jangan cemas atau merasa kecil hati. Namun, beberapa hal berikut dapat membuat hidup kita nyaman walau harus hidup sendiri tanpa pasangan:
- Tetaplah berbuat baik. Walau lajang, tetaplah kita berbuat baik dan menjaga sikap. Masyarakat Timur pada umumnya cenderung menghakimi seseorang yang hidup melajang. "Oh dia tetap lajang karena judes." "Pantas tidak kawin-kawin, orangnya cepat marah." Dan sebagainya dan sebagainya. Walau tidak perlu pembuktian, setidaknya "patahkan" stigma buruk bahwa seseorang sulit berjodoh karena sifat orang tersebut. Lajang atau tidak adalah pilihan dan nasib seseorang.
- Tetap bekerja dan memiliki penghasilan. Walaupun lajang, tetaplah bekerja dan mandiri secara finansial. Dengan memiliki penghasilan setidaknya kita tidak tergantung oleh orang lain dan membantu menghilangkan kecemasan akan hari tua. Perbanyaklah tabungan. Percayalah, semakin sejahtera hidup seorang lajang, kecemasan akan hari tua akan berkurang.
- Investasi untuk hari tua. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hingga usia berapa kita akan sanggup bekerja dan sebagainya. Jangan lupa untuk menabung dan berinvestasi untuk hari tua. Sehingga di saat kita sudah tua dan memerlukan biaya kesehatan, kita memiliki sumber penghasilan dan tabungan.
- Pandai memilih pergaulan. Sosialisasi memang perlu. Namun, bagi seorang yang melajang hingga usia di atas 40 an, kerap kali sosialisasi menjadi hal yang tidak mudah. Omongan orang dan perkataan yang tidak langsung menyinggung perasaan dapat terjadi. Oleh karenanya, pandai-pandailah memilih teman. Jangan berteman dengan orang yang membuat hidup semakin kelabu.
- Tidak menutup diri. Memilih pergaulan tidak berarti menutup diri. Tetaplah hadir pada undangan pernikahan. Walau terasa berat dan risih. Tetaplah datang pada acara kumpul keluarga. Tutup telinga dan tebalkan hati. Semakin menutup diri hanya akan membuat diri menjadi kesepian.
- Isi waktu luang dengan hobby. Hobby selalu menyenangkan hati. Bahagiakanlah diri dengan hobby. Bila perlu, carilah hobby baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Ingatlah, kebahagiaan ada di tangan kita sendiri.
- Mandiri dan tidak manja. Setiap orang lahir ke dunia tanpa tahu siapa yang akan menjadi orangtuanya. Demikian juga ketika kita meninggal dunia. Kita akan sendiri tanpa ada yang menemani. Oleh karenanya, jangan kecil hati jika tetap hidup sendiri tanpa pasangan. Karena pada akhirnya kita juga akan sendiri. Berusahalah untuk mendiri tanpa mengandalkan orang lain.
- Menjaga kesehatan. Karena kita dituntut untuk mandiri, maka kita harus sehat! Jagalah kesehatan dan peliharalah tubuh kita. Rajin berolah raga dan makan minum yang memenuhi tuntutan gizi dan kesehatan. Jika raga kita sehat maka jiwa kitapun akan kuat.
- Berkegiatan rohani. Ada yang mengatakan, kita jangan mengandalkan manusia. Tapi bersandar pada yang Kuasa. Tetaplah memupuk kerohanian dan mempertebal iman.
Memang bicara tidak semudah mempraktekkannya. Hidup sendiri tanpa pasangan tetaplah sesuatu yang terasa berat bagi sebagian orang. Namun setidaknya dengan menjalankan poin di atas kita dapat mengurangi kecemasan akan hari tua.
Photo Credit : Pixabay

No comments:
Post a Comment