-->

Mudah Marah Karena Tidak Bahagia?

mudah marah

Jika orang terdekat kita belakangan terlihat cepat marah atau mudah emosi, kemungkinan besar orang tersebut sedang tidak bahagia. Bunda, menurut penelitian, perasaan cemas, tidak bahagia dan depresi membuat seseorang mudah cepat marah.

Perasaan Tidak Bahagia Membuat Marah

Biasanya, orang yang sering berkata dan berprilaku kasar adalah orang yang tidak bahagia. Kebahagiaan itu tidak semata-mata berbentuk materi. Melainkan dari masa kecil yang kurang bahagia, hubungan dengan orang terdekat seperti orangtua atau saudara kandung yang tidak harmonis, hingga kesulitan ekonomi.

Sayangnya, ketidakbahagiaan pada diri seseorang tersebut, secara tidak langsung ingin "ditularkan" kepada orang lain. Intinya, "Jika aku tidak bahagia, kamupun tidak boleh bahagia." Cilakanya, manifestasi dari perasaan tidak bahagia ini dapat juga berupa rasa iri hati kepada orang lain baik berupa perkataan maupun perbuatan. Bahkan tidak segan melukai orang lain secara fisik. 

Oleh karenanya Bunda, bila orang terdekat kita seperti anak, suami ataupun siapa saja seketika mengalami perubahan secara emosi seperti mudah marah dan kasar, Bunda harus mengetahui latar belakang apa yang menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri orang tersebut. Dan bukan malah memaki atau malah membalas dengan perlakuan kasar juga.

Mengatasi situasi yang tidak bahagia:

  • Cari tahu apa pangkal dari ketidakbahagiaan tersebut. Segera cari solusinya. Rasa tidak bahagia yang berlarut-larut dapat mengakibatkan depresi berkepanjangan bahkan hingga menyakiti diri sendiri.
  • Ketika kita sedang tidak bahagia, carilah waktu untuk introspeksi diri. Tenangkan diri dengan bermeditasi, berdoa, hingga mencari teman bicara. Jangan memendam masalah sendirian. 
  • Jauhi lingkungan yang toxic. Lingkungan yang toxic artinya lingkungan yang dapat memberikan pengaruh yang buruk terhadap masalah yang kita hadapi. Misalnya:
      1. orang terdekat yang memberikan pengaruh buruk dengan perbuatan
      2. orang terdekat yang memberikan perngaruh buruk dengan perkataan. Misalnya, bukannya memberikan saran melainkan mengadu-domba atau bahkan perbincangan dengan orang tersebut malah membuat suasana hati kita panas, tidak menyelesaikan masalah tetapi malah memperburuk keadaan.
      3. sosial media yang jahat. Jika situasi ekonomi kita sedang tidak baik, janganlah melihat sosial media kehidupan orang lain yang "wah". Hal tersebut malah memicu rasa kesal dan uring-uringan. Selain itu, sosial media yang toxic juga dapat membuat kita selalu membandingkan diri dengan keadaan orang lain yang lebih dan terlihat lebih "enak". Padahal, kenyataannya belum tentu orang lain lebih baik daripada kita. Sementara kita sudah terbawa oleh keadaan dan menjadi "baper". Social media yang toxic sebaiknya tidak usah dilihat, bila perlu di unfollow.
Mulai sekarang, jika kita melihat orang yang mudah marah dan berprilaku kasar, entah lewat perkataan maupun perbuatannya, dapat kita pastikan bahwa orang tersebut tidak bahagia. Cobalah memahami. Bila kita tidak bisa membantu mengatasinya, minimal kita mengerti bahwa di luaran sana banyak orang jahat akibat tidak bahagia dengan hidupnya.

Posted By Keluarga101
Photo Credit : Pixabay

No comments:

Post a Comment